RSS

TUGAS INDIVIDU UAS PEREKONOMIAN INDONESIA

09 Jan

 

TUGAS INDIVIDU

 

UAS PEREKONOMIAN INDONESIA

 

 

 

MIFTAHUL FUTUH

 

NIM : 0812.125

SEKOLAH TINGGI EKONOMI ISLAM TAZKIA BOGOR

 

 

1432/2012

 

Soal no 1. BAB 14

A. jelaskan komposisi konsumsi masyarakat Indonesia untuk makanan dan non makanan pd 2 periode 2009-2010 (BPS), dan simpulkan!

Konsumsi : > pangan > non pangan

B. untuk masyarakat perkotaan & pedesaan

Salah satu faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah permintaan domestik dalam bentuk konsumsi masyarakat. Besarnya kontribusi konsumsi masyarakat terhadap perekonomian Indonesia diukur dari proporsi konsumsi masyarakat terhadap PDB yang mencapai 58,6 persen tahun 2009 dan 57,2 persen dalam semester I tahun 2010. Tantangan yang dihadapi dalam menjaga daya beli masyarakat dalam rangka meningkatkan permintaan domestik adalah:

  1. tekanan inflasi yang dapat mengganggu stabilitas harga;
  2. sistem distribusi barang antarwilayah, terutama barang kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia saat ini masih belum optimal sehingga berakibat meningkatnya biaya distribusi;
  3. upaya perlindungan konsumen saat ini masih perlu ditingkatkan agar masyarakat memiliki kesadaran terhadap peranan penting perlindungan konsumen. Langkah yang dilakukan adalah peningkatan kapasitas di bidang kemetrologian guna meningkatkan kualitas pengukuran yang benar, tertelusur dan diakui kebenarannya dalam tingkat nasional, regional, dan internasional;
  4. pelaksanaan persaingan usaha yang belum optimal antara lain disebabkan oleh: (i) masih perlu peningkatan hubungan kelembagaan antara Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan lembaga-lembaga penegak hukum lainnya dengan baik, terutama dalam penanganan perkara; (ii) masih perlunya peningkatan kualitas penanganan perkara persaingan usaha; dan (iii) masih rendahnya pemahaman pemangku kepentingan mengenai peran KPPU dan arti penting nilai persaingan usaha yang sehat. (www.kppu.go.id).

Data konsumsi masyarakat secara umum (BPS)

 

2009

2010

Total

I

II

III

IV

Total

      Konsumsi Masyarakat

4,9

3,9

5,0

5,2

4,4

4,6

Soal no 2.  BAB 13

Jelaskan neraca perdagangan Indonesia berikut datanya terhadap china untuk tahun 2010.! Apakah surplus atau deficit?

Peran China sebagai tujuan ekspor Indonesia, yang kebanyakan berupa komoditi primer juga semakin meningkat. Dan dengan adanya kerjasama ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA), tekanan naiknya permintaan impor barang akan jauh lebih besar dibandingkan tahun 2009 walaupun kinerja ekspor-impor mengalami keterpurukan selama 11 bulan 2009, maka pemulihan mulai terjadi di penghujung 2009. Ekspor dan impor tahunan pada bulan Desember 2009 tumbuh secara luar biasa, masing-masing sebesar 49,8% dan 34,2%.. Hal itu akan berdampak pada berkurangnya surplus neraca Indonesia. Berkurangnya surplus neraca perdagangan itu pada akhirnya akan berdampak pada melemahnya nilai tukar rupiah. Di perkirakan rupiah akan berada di kisaran 9.500 per dolar AS hingga akhir tahun 2010. Hal itu dengan melihat tren pergerakan rupiah selama Januari yang mulai kurang bertenaga, trend penguatan indeks Dolar AS dan kecenderungan beberapa negara yang menaikkan suku bunga acuannya seperti Australia dan China. Ditambah pula neraca pembayaran Indonesia yang diprediksi mengalami penurunan.

Surplus neraca perdagangan Indonesia di tahun 2010 diprediksi akan mengalami penurunan dibandingkan tahun 2009. Hal ini akan menyebabkan tekanan pada neraca transaksi berjalan yang selanjutnya akan menekan neraca pembayaran Indonesia.

Soal no 3. BAB 12

a. mengapa pemerintah Indonesia begitu berhrap bahwa kontribusi sector umkm merupakan sector yang berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja?

Sertakan data jumlah umkm di Indonesia dan perbandingan dgn malaisya pd tahun 2010!

Berikut labor yg terserap di sector ini !

Dengan jumlah unit usaha, tenaga kerja dan pembentukan PDB yang dominan, UMKM masih belum mampu memberikan sumbangan yang besar dalam peningkatan produktivitas dan daya saing. UMKM masih menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang terkait dengan iklim usaha yang kurang kondusif, sistem pendukung usaha yang belum optimal, dan kapasitas SDM yang masih rendah. Masalah yang terkait dengan iklim usaha yang kurang mendukung bagi perkembangan UMKM adalah masih tingginya biaya transaksi akibat ketidakpastian dan ketidakjelasan prosedur perizinan, masih banyaknya berbagai pungutan tidak resmi, dan belum efektifnya pengawasan terhadap persaingan usaha yang tidak sehat. Kondisi iklim usaha bagi UMKM yang meningkatnya juga membutuhkan adanya tata aturan yang lengkap. Namun, hal ini masih menjadi tantangan, terutama dalam mempercepat proses penyusunan peraturan pelaksanaan turunan dari Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 mengenai UMKM. Sementara itu, rendahnya produktivitas UMKM mengakibatkan kesenjangan yang lebar antara pelaku UMKM dan usaha besar.

Produktivitas per unit UMKM pada tahun 2009 sebesar Rp23,0 juta per unit atau meningkat 1,5 persen jika dibandingkan dengan produktivitas pada tahun 2008. Tingkat produktivitas UMKM tersebut masih jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan produktivitas usaha besar yang mencapai Rp186,8 miliar per unit pada tahun 2009, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 4,4 persen. Rendahnya produktivitas juga mengakibatkan UMKM kurang mampu bersaing, baik di pasar domestik maupun di pasar internasional. Ketertinggalan tersebut, terutama, disebabkan oleh rendahnya kompetensi kewirausahaan UMKM, serta rendahnya kapasitas UMKM dalam manajemen usaha, penguasaan teknologi, dan pemasaran. UMKM juga masih mengalami keterbatasan dalam mengakses sumber-sumber permodalan, teknologi, informasi, dan pasar. Kondisi ini belum dapat ditangani secara efektif karena keterbatasan jumlah lembaga penyedia jasa pengembangan usaha.

Lembaga-lembaga ini sebenarnya dapat melengkapi peran Pemerintah dalam menyediakan pembinaan. Peran lembaga penyedia jasa pengembangan usaha tersebut juga dibutuhkan untuk meningkatkan jangkauan pendampingan usaha yang diperlukan oleh UMKM. Hal ini dilakukan mengingat populasi usaha mikro yang begitu besar (98,56 persen dari total unit usaha di Indonesia pada tahun 2009) dengan lokasi dan bidang usaha yang beragam. Sebagian besar dari usaha mikro ini masih menghadapi kendala akses kepada sumber permodalan yang dapat disebabkan oleh bentuk usahanya yang masih informal (tidak berbadan hukum), kapasitas pengelolaan usahanya yang belum memadai, dan keterbatasan aset yang dapat digunakan sebagai agunan. Kondisi tersebut secara umum menyebabkan UMKM masih sulit untuk dapat meningkatkan kapasitas produksi dan nilai tambah usahanya.

Sementara itu, permasalahan khusus yang dihadapi dalam pemberdayaan koperasi adalah masih belum meluasnya pemahaman masyarakat tentang koperasi sebagai badan usaha yang memiliki struktur kelembagaan dan insentif yang unik/khas jika dibandingkan dengan badan usaha lainnya. Selain itu, masyarakat masih banyak yang kurang memahami prinsip-prinsip dan praktik berkoperasi secara benar. Bagi UMKM, lembaga koperasi sebenarnya dapa diharapkan untuk berperan sebagai wadah gerakan ekonomi rakyat. Namun harapan ini belum sepenuhnya dapat diwujudkan karena banyak koperasi yang belum mampu bertahan dalam menghadapi perubahan lingkungan yang sangat dinamis.

Dengan demikian, revitalisasi koperasi menjadi tantangan yang mutlak ditangani dalam tahun-tahun mendatang. Berdasarkan kondisi dan permasalahan tersebut, pemberdayaan koperasi dan UMKM ke depan membutuhkan upaya yang dilakukan secara sistematis/melembaga dan terarah, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pemberdayaan yang bersifat lintas sektor atau multidimensi. Pemberdayaan koperasi dan UMKM juga perlu dipertajam dan diarahkan untuk dapat merespon tantangan yang terkait dengan persoalan sosial ekonomi, seperti penyediaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan.

Berikut data UMKM & Tenaga kerja UMKM Tahun 2010 ;

 

Satuan

Jumlah

Pangsa (%)

Unit Usaha

Unit

53.828.569

99.99

Tenaga Kerja

Orang

99.401.775

97.22

PDB Atasa Dasar Harga Berlaku

Rp. Milyar

6.068.762.8

57.12

Sumber : Kementrian Koperasi & UMKM

Sementara saat ini, jumlah UKM di Malaysia adalah lebih dari 80% jumlah total perusahaan. Dari sejumlah tersebut, 88% di antaranya masuk dalam kategori small-scale industry dan 12% kategori medium-scale industry.

Referensi

(www.kppu.go.id)

detikFinance

Dumairy, Perekonomian Indonesia, Jakarta: Penerbit Erlangga, 1999.

Tambunan, Tulus. Perekonomian Indonesia: Beberapa Masalah Penting. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2001.

 


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Januari 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: