RSS

2 HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

Gambar

التقريرات السديدة فى المسائل المفيدة زين بن ابراهيم بن زين بن سميط ص 448 دار العلوم الاسلامية – سورابايا

Perkara yang mebatalkan puasa hanya ada dua;

1)       مُحْبِطَاتْ (perkara yang melebur pahala puasa) : yaitu perkerjaan yang dapat menghapus pahala puasa (have not reward) tapi puasanya tetap sah/jadi/dianggap. Dirinya hanya menahan rasa lapar dan haus namun dia tetap berkewajiban melanjutkan puasanya sampai tuntas. Lebih berat lagi dosanya apabila ia sampai tidak puasa (berhenti ssebelum tibanya azan Maghrib).

Adaapun perkara yang melebur pahala puasa tersebut adalah;

  1. Ghibah
  2. Namimah (mengalihkan atau memindahkan perkataan dengan tujuan menimbulkan fitnah)
  3. Dusta
  4. Melihat sesuatu yang diharamkan atau melihat sesuatu yang halal dengan disertai syahwat
  5. Sumpah dusta
  6. Ucapan yang jorok

2)      مُفَطِّرَاتْ (perkara yang membatalkan puasa)

Adapun perkara yang yang membatalkan puasa ada delapan;

  1. Murtad (keluar dari Islam) baik melalui hati, perkataan yang menyebabkan kafir, dan atau melalui tindakan.
  2. Haid, nifas, dan melahirkan
  3. Gila walaupun sebentar (hilangnya perasaan serta adanya kekuatan untuk bergerak). Tidak termasuk dalam hal ini, tidur.
  4. Semaput atau mabuk sepanjang hari.

Kalau hanya sebentar maka puasanya tetap sah menurut pendapatnya Imam Romly.

  1. Berhubungan badan.

Kalau hal ini terjadi, maka pelakunya harus;

  1. Dosa, sudah jelas
  2. Wajib imsak/menahan untuk tidak makan (tidak boleh makan sampai tiba azan Maghrib, walaupun puasanya tidak dianggap)
  3. harus di beri sangsi oleh Hakim setempat
  4. wajib mengganti puasanya
  5. wajib bayar kaffaraot/tebusan dengan memilih salah satu dari tiga ini;
    1. memerdekakan budak
    2. puasa 2 bulan berturut-turut (tidak boleh dipisah atau diselingi)
    3. memberi makanan kepada 60 orang miskin (setiap kepala mendapat 1 mud)

Keterangan : kaffarot ini hanya wajib bagi suami saja, tidak bagi istri. Dan juga banyaknya kaffarot tergantung banyaknya hari.

  1. Sampainya benda ke bagian dalam perut (lubang, rongga, termasuk otak) melalui jalan terus (lubang, perlintasan)

Keterangan : udara, bau makanan, dan angin tidak membatalkan puasa jika masuk kedalam perut.

Perhatian : yang dimaksud jalan terus terbuka adalah mulut, hidung, kuping, dan lubang kemaluan.

Kalau masuknya benda tersebut melalui pori-pori seperti meminyaki/melumasi tubuh dengan minyak yang dapat diserap melalui pri-pori kulit maka tidak membatalkan puasa.

Permasalahan seputar ini;

6.1. Hukum jarum suntik, diperbolehkan dalam keadaan terpaksa.

Jika benda yang disuntikkan itu cairan yang bergizi (mengenyangkan) seperti    cairan infus dls, maka dapat membatalkan puasa.

Jika bukan berupa cairan yang bergizi maka ada dua pendapat

  1. Jika melalui urat/pembuluh darah vena maka batal puasanya
  2. Jika melalui otot, maka tidak membatalkan

6.2. Hukum dahak / lendir /  riak

  1. Jika sampai pada batas zahir (tempat keluarnya huruf ghoin atau kho) kemudian ditelan,  maka puasanya batal.
  2. Jika sampai pada batas batin (tempat keluarnya huruf ha’ atau hamzah) kemudian ditelan,  maka tidak membatalakan puasa.

6.3.Hukum menelan ludah

Tidak membatalkan puasa dengan 3 kriteria;

  1. Ludahnya bersih, tidak bercampur dengan darah atau zat lain seperti dahak dan darah
  2. Ludahnya suci, tidak kena najis
  3. Ludahnya dari lambung (termasuk ludah yang ada di area mulut)

Perhatian : jika menelan ludah yang sudah keluar dari area mulut, seperti yang menempel pada bibir terus ditelan, maka batal puasanya.

6.4.Hukum masuknya air kedalam perut pada saat mandi dengan tanpa disengaja

  1. Jika mandinya disyariatkan seperti mandi wajib (junub) atau mandi sunnah (mandi untuk shalat Jum’at), maka puasanya tidak batal dengan catatan airnya di alirkan/tuangkan dari atas kepala. Dan batal jika mandinya dengan cara tenggelam (menceburkan diri kedalam kolam air)
  2. Jika mandinya tidak disyariatkan seperti mandi untuk mendinginkan badan dan mandi biar bersih, maka batal puasanya baik dengan cara di alirkan/tuangkan atau menceburkan diri kedalam kolam air sekalipun masuknya air tanpa disengaja.

6.5.Haukum masuknya air pada tenggorokan pada saat berkumur (dan menghirup air)

Jika berkumurnya di syariatkan seperti pada saat wudlu, mandi wajib atau mandi sunnah, maka puasanya batal apabila berkumur dengan keras, tidak batal jika dengan cara pelan.

Jika berkumurnya tidak di syariatkan seperti berkumur pada bilangan yang keempat atau diluar wudlu dan mandi maka batal puasanya dalam kondisi apapun (baik dengan keras, atau dengan cara pelan)

  1. إِسْتِمْنَاءْ (melakukan masturbasi/onani)  baik dengan tangan sendiri, tangan istri, menghayal, menonton, atau melakukan persetubuhan, kesemuanya itu dapat membatalkan puasa.

Tambahan :

Hukum mencium ; haram jika dapat membangkitkan syahwat, akan tetapi puasanya tidak batal kecuali sampai keluar sperma gara-gara mencium.

(hukum disini dalam puasa wajib. Tidak haram kalau puasa sunnah)

  1. إِسْتِقَاءَة (pemuntahan) ; dapat membatalkan puasa sekalipun sedikit keluarnya.

Muntah : adalah makanan yang sudah melintasi/melewati tenggorokan kemudian keluar lagi.

Perhatian : jika keluarnya tidak disengaja seperti mabok diperjalanan maka puasanya tidak batal dan berkewajiban membersihkan area mulut yang kena najis dengan cara berkumur.

 doa-berbuka-puasa

Pembagian ifthor (membatalkan puasa/berbuka sebelum waktunya/boleh tidak puasa)

  1. Wajib qodlo’ + Fidyah (Mud)
    1. Ifthor karena hawatir hanya pada janin atau pada bayi yang sedang disusui saja, maka wajib qodlo’ (mengganti puasa yang ditinggalkan) + Mud (). Jika Ifthornya karena hawatir pada diri dan anaknya maka wajib qodlo’ saja (tidak usah bayar mud).
    2. Ifthor (tidak puasa) karena mengakhirkan (qodlo’) mengganti puasa sampai tiba bulan Romadlon selanjutnya pada hal dia mampu, maka;
  • Jika tidak ada uzur syar’ie maka wajib bayar fidyah + qodlo’.
  • Jika ada uzur syar’ie seperti perjalan, sakit, menyusui, lupa niat dimalam hari, atau tidak tahu kalau itu membatalkan, maka tidak usah bayar fidyah namun tetap mengganti puasa yang ditinggalkan (qodlo’).

Keterangan :

Fidyah : adalah mengeluarkan 1 mud makanan pokok sebuah Negara (beras, Indonesia) setiap hari (banyaknya mud tergantung banyaknya puasa yang ia tinggalkan).

  1. Wajib qodlo’ tidak  Fidyah

Seperti ifthor karena semaput, lupa niat, dan orang yang yang melampaui batas dengan ifthornya dengan selain jimak.

  1. Wajib Fidyah tidak qodlo’

Seperti orang tua rent dan orang sakit yang tidak kunjung sembuh (sakit menahun/tidak diharapkan sembuhnya)

  1. 4.      Tidak wajib qodlo’ dan Fidyah

Seprti tidak puasa karena gila.

fidyah1

6 orang dibawah ini wajib mengganti puasanya (qodlo’), disamping itu wajib imsak (menahan tidak makan sampai tiba azan Maghrib) walaupun puasanya tidak dianggap.

  1. Orang yang sengaja membatalkan puasanya tanpa ada alasan syar’ie
  2. Orang yang meninggalak niat dimalam hari sekalipun lupa
  3. Orang yang masih sahur, dirinya menduga masih belum masuk waktu Subuh, dan ternyata sudah masuk waktu azan Subuh
  4. Orang yang berbuka puasa, dirinya menduga sudah azan Maghrib padahal belum
  5. Puasa pada tanggal 30 Sya’ban, dia meyakini hari itu sudah masuk bulan Ramadlan
  6. Kemasukan air dengan cara yang tidak disyariatkan seperti berkumur, menghirup air, dan mandi biasa

 Gambar

Kondisi dibawah ini tidak dapat membatalkan puasa bila ada benda masuk kebagian dalam perut (lubang, rongga, termasuk otak) melalui jalan terus (lubang, perlintasan);

  1. Karena lupa
  2. Karena tidak tahu bahwa hal itu membatalkan’karena dipaksa
  3. Ludah bersih yang berputar di area mulut
  4. Debu jalanan
  5. Serbuk tepung yang berterbangan
  6. Lalat terbang yang masuk tanpa disengaja

Gambar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Mei 2013 in Uncategorized

 

Debat Al-Buti dengan Al-alBani

Gambar

Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Wahhabi dari Yordania.
Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”

Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”

Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?”

Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”

Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”

Al-Albani menjawab: “Ya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”

Al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?”

Al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”

Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ahnya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”

Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”

Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”

Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wata’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang dating dari Nabi Saw. secara mutawatir.”

Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab asy-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam asy-Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”

Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.”

Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.

Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’at al-Islamiyyah. Dialog tersebut menggambarkan, bahwa kaum Wahhabi melarang umat Islam mengikuti madzhab tertentu dalam bidang fiqih. Tetapi ajakan tersebut, sebenarnya upaya licik mereka agar umat Islam mengikuti madzhab yang mereka buat sendiri. Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2013 in Uncategorized

 

KUBUR-an IS MY LIFE

Gambar

“Barang siapa yang ziarah kubur ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap Jum’at, maka dosanya di ampuni baginya, dan dia di catat sebagai birrul walidain”. Hadits.
 
Ziarah kubur hukumnya sangat disunnahkan. Faidahnya sebagai pengingat kematian dan mengambil pelajaran. Apa lagi ziarah kubur ke makam orang2 sholeh, hal ini juga sangat dianjurkan. Faidahnya adalah mengambil berkah (tabarruk) dan mengambil pelajaran DARI mereka.
Berikut nama-nama manusia pilihan terdahulu yang pernah melakukan ziarah kubur semasa hidupnya:
1.      Rasulullah SAW, ziarah kubur ke makam ibunya (Sayyidatuna Aminah)
2.      Sayyidah Aisyah, , ziarah kubur ke makam saudarinya (Sayyiduna  Abdurrohman)
3.      Sayyidah Fathimah, , ziarah kubur ke makam pamannya (Sayyiduna Hamzah)sampai berhari-hari
4.      Ibnu Umar,  ziarah kubur ke makam Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Ayahnya (Sayyiduna Umar ) sebanyak seratus kali bahkan lebih
5.      Anas bin Malik, , ziarah kubur ke makam Rasulullah SAW
6.      Dan masih banyak lagi….
 
Etika ziarah kubur bagi wanita Muslimah:
1.      Memakai pakaian yg menutup aurat, pakaian sehari-hari yg sekiranya kaum laki2 tidak sudi melihatnya
2.      Tidak berlama-lama dalam berdo’a
3.      Tidak ngobrol di atas kuburan
4.      Membelakangi kiblat, yakni menghadap wajah mayyit, serta  mengucapkan salam
5.      Tidak usah mengusap maisan dan menciumnya, karena hal ini kebiasaan orang2 Nasrani
Semoga kita semua di takdirkan bisa ziarah ke makam Rasulullah SAW. Sebagaimana dlm Sabda-Nya “ Barang siapa yang ziarah ke kuburanku, maka orang tersebut berhak mendapatkan syafaatku”.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2013 in Uncategorized

 

Cuplikan dari Berbagai Kitab Pilihan

Gambar

___________________________________________________
مَحَبَّةُ الدُّنْيَا وَمَحَبَّةُ اللهِ فِى الْقَلْبِ كَالْمَاءِ وَالْهَوَاءِ فِى الْقَدَحِ
فَالْمَاءُ اِذَا دَخَلَ خَرَجَ الْهَوَاءُ وَلَا يَجْتَمِعَانِ
(الغزالي : إحياء علوم الدين/ جز 4/ ص 236)
Cinta dunia dan cinta Allah dalam hati bagaikan air dan udara di dalam gelas,
Jika air masuk ke dalam gelas, maka keluarlah udara yang ada di dalam gelas tersebut.
Selamanya tidak akan pernah menyatu.
___________________________________________________
وَقَدْ رَأَى بَعْضُهُمْ بَعْدَ مَا صُنِّفَ “”الْإِحْيَاءُ”” اَلشَّيْطَانَ وَهُوَ يَحْثُوْ عَلَى رَأْسِهِ التُّرَابَ.
فَقَالَ لَهُ : مَا بَالُكَ ؟ قَالَ: صُنِّفَ فِى الْإِسْلَامِ كِتَابٌ اَخْشَى اَنَّ النَّاسَ يَتَّبِعُوْنَهُ
(حبيب زين بن ابراهيم بن سميط : المنهج السوي شرح اصول طريقة السادات آل باعلوي/ ص 251)
Salah seorang ulama pernah melihat syaitan yang sedang menumpuhkan kepala ke debu (merasa malu, red).
Ulama tersebut bertanya : Kenapa kamu jadi cemas?
Syaitan menjawab : telah dikarang/disusun sebuah kitab (Ihya’) yang saya sangat hawatir kalau orang-orang mengikuti isinya (dari kitab tersebut).
___________________________________________________
يُرْوَى عَنِ الشَّيْخِ الْقُطْبِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّقَّافِ اَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ:
مَنْ لَمْ يَقْرَأْ “”الْمُهَذَّب”” لَمْ يَعْرِفْ قَوَاعِدَ الْمَذْهَبِ، وَمَنْ لَمْ يَقْرَأْ “”التَّنْبِيْه”” فَلَيْسَ بِنَبِيْهٍ ، وَمَنْ لَمْ يُطَالِعْ “”الْإِحْيَاء”” فَمَا فِيْهُ حَيَاءٌ ، وَمَنْ لَا لَهُ وِرْدٌ فَهُوَ قِرْدٌ.
(حبيب زين بن ابراهيم بن سميط : المنهج السوي شرح اصول طريقة السادات آل باعلوي/ ص 251)
Diceritakan dari Syaikh Quthub Abd. Rahman As-Seggaf, Beliau berkata : barang siapa yang tidak membaca kitab “Muhadzzab”, maka dia tidak akan tahu dasar-dasar mazhab. Barang siapa yang tidak membaca kitab “Tanbih”, maka dia bukanlah orang yang mulia/cerdik. Barang siapa yang belum menelaah kitab “Ihya”, maka dirinya tidak memiliki rasa malu. Dan barang siapa yang tidak memiliki wiridan / bacaan rutin, maka dia bagaikan kera.
_______________________________________________
Betapa banyak pepohonan namun tidak semuanya berbuah.
Betapa banyak buah2an namun tidak semuanya enak dimakan.
Betapa banyak ilmu2 namun tidak semuanya manfaat/berguna.
Oleh Karena itu,
Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang dapat menambah hati seseorang semakin zuhud di dunia, cinta Allah, dan khusyu dalam beribadah.
___________________________________________________
قَالَ بَعْضُهُمْ : إِنَّ الْفَقِيْرَ الصَّادِقَ لَيَحْتَرِزُ مِنَ الْغِنَى حَذَرَ اَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِ الْغِنَى فَيَفْسُدَ فَقْرُهُ كَمَا أَنَّ الْغَنِيَّ يَحْتَرِزُ مِنَ الْفَقْرِ حَذَرَ اَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِ الْفَقْرُ فَيَفْسُدَ عَلَيْهِ غِنَاهُ.
(الغزالي : إحياء علوم الدين/ جز 1/ ص 312)
Salah satu Ulama berkata : sesungguhnya orang miskin yang tulus ia menjaga dirinya agar terhindar dari sifat kaya, hawatir kekayaan tersebut merusak dirinya yang bestatus miskin.
Begitupun orang kaya yang tulus ia menjaga dirinya agar terhindar dari sifat miskin, hawatir sifat miskin tersebut merusak dirinya yang bestatus kaya.
___________________________________________________
KONSEP SYAFA’AT
Syafa’at tidak hanya tertentu bagi para Nabi dan orang-orang yang jujur, akan tetapi syafaat itu juga bisa terjadi kepada para ulama, orang-orang yang sholih, dan setiap orang yang memiliki pangkat di sisi Allah serta bagus dalam bermuamalah (berinteraksi).
Mereka semua bisa memberikan syafaat kepada keluarganya, kerabat, sahabat, dan kenalannya. Oleh karena itu berusahalah anda agar juga bisa memiliki derajat syafa’at seperti mereka dengan cara ;
1. tidak sampai meremehkan manusia
2. Tidak samasekali menganggap kecil terhadap maksiat kepada Allah
3. Tidak menganggap hina ketaatan kepada Allah
(الغزالي : إحياء علوم الدين/ جز 4/ ص 506)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2013 in Uncategorized

 

PROSESI SAKARATUL MAUT (SEKARAT/ HAMPIR MATI)

Gambar

Memang kita belum waktunya merasakan sekarat namun tunggulah finalnya.
Bayangkan ketika salah satu anggota tubuh kita terluka maka tubuh ini akan merasakan sakit, karena masih menyatu (berhubungan) dengan ruh (sukma, jiwa).
Nah bagaimana sekarang kalau yang dicabut itu adalah ruh itu sendiri yang memang menyatu dan melekat dalam tubuh (seluruh urat nadi).
Orang yang kena pukulan keras pastinya dia minta tolong dan menjerit kesakitan lantaran sebagian tubuh ada yang tersakiti.
Namun sering kita jumpai tidak ada ceritanya mayat menejerit (karena saking parahnya rasa sakit yang ia rasakan saat itu) tatkala sakaratul maut mengahampirinya. Akal pikiran menjadi buntu, lidah membisu, sekujur tubuh menjadi lemah tak berdaya bahkan dia berharap penuh “ Andaikan ada waktu istirahat sejenak untuk mencari pertolongan”, sungguh dia benar-benar tidak mampu akan hal itu.
Perhatikan orang yang sedang mengalami naz’ur ruh (pencabutan nyawa), dia berubah warna dan pucat sampai-sampai kelihatan mirip tanah (yang memang asal fitrahnya).
Jarinya kehijau-hijauan, pelipisnya berkeringat, kemudian anggota tubuhnya sedikit demi sedikit mulai mati. Tandanya, yang pertamakali, kaki menjadi dingin, disusul betis, paha (setiap anggota tubuh ada sakaratnya), yang terkahir rasa dingin itu sampai kepada hulkum (tenggorokan).
Saat itulah dia sudah tidak bisa melihat dunia dan seisinya, pintu taubat tertutup rapat, dan diliputi oleh penyesalan yang tiada tara.
Nabi Muhammad  bersabda “ Taubat seorang hamba akan diterima selama ia belum mengalami naza’”.
Manusia memang tidak tahu akan hal itu karena memang belum waktunya. Segala sesuatu sebelum tiba waktunya, dapat/bisa dijumpai/diketahui dengan cahaya kenabian dan kewalian.
Rasululloh  bersabda “Mati mendadak (tiba-tiba) merupakan ketenangan jiwa (kenyamanan/lega) bagi orang yang beriman, dan penyesalan tiada tara (persaan sedih/bersalah) bagi orang yang hanyut dalam kemaksiatan(pezina/sembrono/kurang ajar).
Doa Rasululloh 
اَللّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ
Ya Allah ! Ringankan/Mudahkan kepada kami sakaratul maut(الغزالي : إحياء علوم الدين/ جز 4/ ص 446)
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2013 in Uncategorized

 

PRAKTIK KONSUMSI DALAM ISLAM

Gambar

Praktik konsumsi di sini dimaksudkan agar manusia mensyukuri nikmat Allah yang begitu melimpah, bagaimana prosesnya mulai dari barang mentah (raw material) sampai barang jadi (immaterial). Dari proses inilah, manusia akan tahu dan bisa mengambil hikmah bahwa suatu barang yang kita konsumsi butuh banyak tangan untuk mengolahnya sehingga kita tinggal menerima jadinya. Itulah cara Allah  melibatkan banyak pihak melalui sifat Rahman-Rahim-Nya sehingga para pekerja begitu semangat mengolahnya yang pada ujungnya, kita juga bisa menikmatinya. Subahnallah.
Ambil contoh jenis makanan pokok orang Indonesia (beras), bagaimana Allah melibatkan banyak pihak, awan berkolaborasi dengan angin untuk mengantarkan air hujan keseluruh penjuru bumi. Itupun Allah mengatur sedemikian rupa sehingga ada pergantian musim (musim dingin dan panas). Kalaupun tidak ada hujan, Allah memerintahkan gunung untuk mem-back up air-air untuk di saving sehingga mengalirlah air itu berangsur-angsur kesawah-sawah yang dibutuhkan.
Itu semua masih butuh serapan energy ultraviolet melalui sinar matahari (untuk menghangatkan, mematangkan, dan mengeraskan) dan sinar bulan (untuk pembasahan).
Mahasuci Allah SAW, sungguh seluruh ciptaan-Nya tidaklah sia-sia dan permainan belaka.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِيْنَ
Oleh karena itu, makanan pokok kita (beras) tidak akan sempurna kecuali melibatkan air, udara, matahari, rembulan, dan bintang, serta cakrawala yang digerak-gerakkan oleh para Malaikat langit dan seterusnya yang kesemuanya itu adalah ciptaan Allah.
Belum lagi prosesnya, kadang bahkan kita tidak tahu siapa yang memeroduksinya. Kita hanyalah menerima barang jadi. Bahkan mereka berjauhan dan tidak saling mengenal dengan kita. Tapi itulah cara Allah melunakkan hati mereka para pedagang dengan menguasakan kepada mereka hasrat cinta harta dan ingin mendapatkan keuntungan yang banyak, pada hal hasil yang mereka kumpulkan belum tentu menjamin dirinya, bisa jadi dicuri, kena banjir, atau mereka meninggal disalah satu daerah. Perhatikan bagaimana Allah menguasai hati mereka.
(الغزالي : إحياء علوم الدين/ جز 4/ ص 115)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2013 in Uncategorized

 

HADITS SHAHIH YANG DI-DHA’IF-KAN KAUM WAHABI

oleh Idrus Ramli

Takhrij Hadits “Ya Muhammad”

Kaum Wahabi berpandangan bahwa istighatsah dengan Nabi SAW atau orang shalih yang sudah wafat termasuk syirik akbar, murtad dan keluar dari Islam. Na’udzu billah min dzalik. Sementara kaum Muslimin sejak generasi sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya membolehkan istighatsah dengan Nabi SAW atau orang shalih yang sudah wafat. Di antara dalil yang menganjurkan dan membolehkan istighatsah adalah hadits mauquf dari Ibnu Umar RA yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad.Mengingat atsar atau hadits mauquf ini tidak menyenangkan bagi kaum Wahabi, sebagian Wahabi menolak keshahihan hadits tersebutsecara tidak ilmiah, dan bahkan sebagian mereka ada yang mengejek kitab al-Adab al-Mufrad karya al-Imam al-Bukhari. Oleh karena itu, tulisan berikut ini akan mengkaji hadits Ibnu Umar RA tersebut secara ilmiah. Al-Bukhari meriwayatkan sebagai berikut:

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه أَنَّهُ خَدِرَتْ رِجْلُهُ فَقِيْلَ لَهُ: اُذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ.

 

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, bahwa suatu ketika kaki beliau terkena mati rasa, maka salah seorang yang hadir mengatakan kepada beliau: “Sebutkanlah orang yang paling Anda cintai!” Lalu Ibnu Umar berkata: “Ya Muhammad”. Maka seketika itu kaki beliau sembuh.”

 

Hadits di atas diriwayatkan melalui lima jalur dari Abi Ishaq al-Sabi’i.

 

Pertama, diriwayatkan oleh Sufyan al-Tsauri dari Abi Ishaq, dari Abdurrahman bin Sa’ad. Jalur ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (al-Adab al-Mufrad, [964, h. 346]).

 

Kedua, diriwayatkan oleh Zuhair bin Muawiyah dari Abi Ishaq, dari Abdurrhman bin Sa’ad. Jalur ini diriwayatkan oleh Ali bin al-Ja’d (al-Musnad, [2539, h. 369]), Ibnu Sa’ad (al-Thabaqat, [IV/154]), Ibrahim al-Harbi (Gharib al-Hadits [II/674]), Ibnu al-Sunni (‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, [172, h. 115]), Ibnu Asakir (Tarikh Madinah Dimasyq, [XXXI/177]), dan al-Mizzi (Tahdzib al-Kamal, [XVII/142]).

 

Ketiga, diriwayatkan oleh Israil dari Abi Ishaq dari al-Haitsam bin Hanasy. Jalur ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Sunni (‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, [170, h. 115]).

 

Keempat, diriwayatkan oleh Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Abi Ishaq, dari Abi Syu’bah. Jalur ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Sunni (‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, [168, h. 114]).

 

Kelima, diriwayatkan oleh Syu’bah dari Abi Ishaq, dari laki-laki yang mendengar Ibnu Umar. Jalur ini diriwayatkan oleh Ibrahim al-Harbi (Gharib al-Hadits, [h. 674]).

 

Derajat Hadits

 

Al-Bukhari meriwayatkan hadits Ibnu Umar di atas (al-Adab al-Mufrad, [964, h. 346]), dari Abu Nu’aim al-Fadhl bin Dukain, dari Sufyan al-Tsauri, dari Abu Ishaq al-Sabi’i, dari Abdurrahman bin Sa’ad al-Qurasyi al-‘Adawi. Semua perawi hadits ini tsiqah, dipercaya. Sufyan al-Tsauri mendengar hadits tersebut dari Abu Ishaq sebelum Abu Ishaq mengalami ikhtilath (berubah hafalannya). Sedangkan Abdurrahman bin Sa’ad, dinilai tsiqah oleh al-Nasa’i (Taqrib al-Tahdzib, [3877]) dan Ibnu Hibban (al-Tsiqat, [4026, V/99]). Dengan demikian hadits di atas bernilai shahih tanpa keraguan. Bahkan Ibnu Taimiyah (al-Kalim al-Thayyib, [h. 173]) dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah (al-Wabil al-Shayyib, [h. 302]) menganggap istighatsah “Ya Muhammad”, sebagai ucapan yang baik (kalimah thayyibah). Beliau juga menganjurkan agar ucapan istighatsah “Ya Muhammad” tersebut diamalkan oleh orang yang kakinya terkena mati rasa.

 

Bersama Kaum Wahabi

 

Hadits shahih di atas, merupakan dalil yang sangat tegas tentang kebolehan istighatsah. Dan tentu saja, kaum Wahabi berupaya menepis keshahihan hadits tersebut dengan berbagai alasan. Dalam upaya menolak keshahihan hadits di atas, kaum Wahabi terbagi menjadi dua aliran. Pertama, kaum awam seperti Mahrus Ali – dalam Sesat Tanpa Sadar-nya -, yang menolak hadits di atas, dengan alasan hadits tersebut diriwayatkan melalui jalur lain (bukan jalur di atas) yang sangat lemah. Tentu saja, kelompok awam ini tidak perlu dilayani. Kelompok ini karena keawamannya dalam bidang ilmu hadits, akan menolak setiap hadits shahih, yang diriwayatkan melalui jalur lain yang lemah. Kelompok awam ini tidak segan-segan mengejek kitab al-Adab al-Mufrad karya al-Bukhari karena telah meriwayatkan hadits Ibnu Umar RA di atas.

 

Kedua, kaum alim seperti al-Albani dan lain-lain yang berusaha merekayasa kedha’ifan hadits di atas secara “ilmiah”. Kelompok ini yang akan kita layani. Dalam mengomentari hadits di atas al-Albani berkata dalam catatan al-Kalim al-Thayyib:

 

ضَعِيْفٌ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ فِي اْلأَدَبِ الْمُفْرَدِ (٩٦٤) وَابْنُ السُّنِّيُّ (١٦٨)، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدٍ هَذَا وَثَّقَهُ النَّسَائِيُّ، فَالْعِلَّةُ مِنْ أَبِيْ إِسْحَاقَ، مِنْ اخْتِلاَطِهِ وَتَدْلِيْسِهِ، وَقَدْ عَنْعَنَهُ فِيْ كُلِّ الرِّوَايَاتِ عَنْهُ.

 

Hadits dha’if, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (964) dan Ibnu al-Sunni (168). Abdurrahman bin Saad ini dinilai tsiqah oleh al-Nasa’i. Jadi illat (alasan) kedha’ifan hadits ini terletak pada Abu Ishaq, karena faktor ikhtilath (berubah hafalannya) dan tadlis (menyamarkan riwayat). Ia telah meriwayatkannya secara mu’an’an (memakai redaksi “dari”) dalam semua riwayat.” (Al-Albani, al-Kalim al-Thayyib, h. 173).

 

Berdasarkan pernyataan al-Albani di atas, dapat disimpulkan bahwa alasan kedhaifan hadits tersebut terletak pada perawi Abu Ishaq Amr bin Abdullah al-Sabi’i, yang 1) ikhtilath, dan 2) melakukan tadlis(menyamarkan riwayat).

 

Alasan Ikhtilath

 

Sekarang kita akan mengkaji secara ilmiah, kedua faktor di atas yang menjadi alasan Wahabi dalam mendha’ifkan atsar Ibnu Umar di atas. Pertama, seputar faktor ikhtilath-nya Abu Ishaq al-Sabi’i. Pertanyaan yang perlu dikemukakan di sini adalah, benarkah mendha’ifkan atsar Ibnu Umar tersebut dengan alasan ikhtilath-nya Abu Ishaq al-Sabi’i? Jawabannya, tentu tidak benar karena tiga alasan:

 

Pertama, alasan ikhtilath hanya bisa digunakan ketika perawi dari Abu Ishaq al-Sabi’i menerima hadits di atas setelah Abu Ishaq mengalami ikhtilath, seperti riwayatnya Zuhair bin Muawiyah, al-Haitsam bin Hanasy dan Abu Bakar bin Ayyasy yang meriwayatkan hadits dari Abu Ishaq setelah Abu Ishaqikhtilath. Sedangkan hadits Ibnu Umar tersebut juga diriwayatkan oleh Sufyan al-Tsauri dari Abu Ishaq, sebelum Abu Ishaq mengalami ikhtilath. Oleh karena itu, al-Albani hanya mengomentari riwayat hadits di atas, yang melalui jalur al-Haitsam bin Hanasy dalam al-Kalim al-Thayyib karya Ibnu Taimiyah. Al-Albani tidak memberikan komentar terhadap riwayat Sufyan al-Tsauri ketika men-ta’liq al-Adab al-Mufrad karya al-Bukhari. Dengan kecerdikannya, al-Albani hanya mengalihkan pembaca agar merujuk kepada al-Kalim al-Thayyib, yang dimungkinkan dilakukan pendha’ifan karena faktor ikhtilath­-nya Abu IshaqSedangkan, riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad tidak mungkin didha’ifkan dengan dalihikhtilath. Di sini jelas sekali nilai kejujuran al-Albani dalam kajian ilmu hadits.

 

Kedua, seandainya kita menerima klaim al-Albani bahwa al-Haitsam bin Hanasy menerima hadits tersebut setelah Abu Ishaq mengalami ikhtilath, para ulama ahli hadits justru menolak dan tidak mempersoalkan asumsi ikhtilath-nya Abu Ishaq al-Sabi’i. Dalam konteks ini al-Hafizh al-Dzahabi berkata:

 

عَمْرٌو بْن عَبْدِ اللهِ أَبُوْ إِسْحَاقَ السَّبِيْعِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِيْنَ بِالْكُوْفَةِ وَأَثْبَاتِهِمْ إِلاَّ أَنَّهُ شَاخَ وَنَسِيَ وَلَمْ يَخْتَلِطْ.

 

Amr bin Abdullah Abu Ishaq al-Sabi’i, termasuk imam kaum tabi’in di Kufah dan kuat hapalannya, hanya saja ia mengalami masa tua, lupa dan tidak pernah ikhtilath. (Al-Dzahabi, [Mizan al-I’tidal, III/270]).

 

Pernyataan al-Dzahabi di atas telah menepis adanya dugaan ikhtilath terhadap Abu Ishaq.

 

Al-Hafizh al-Dzahabi juga memasukkan Abu Ishaq dalam kategori para perawi tsiqah yang dipersoalkan, tetapi haditsnya tidak dapat ditolak (harus diterima). Dalam hal ini al-Dzahabi berkata dalam kitabnya, al-Ruwat al-Tsiqat al-Mutakallam fihim bima la Yujibu Raddahum sebagai berikut:

 

أَبُوْ إِسْحَاقَ السَّبِيْعِيُّ ثِقَةٌ إِمَامٌ لَكِنَّهُ كَبُرَ وَسَاءَ حِفْظُهُ وَمَا اخْتَلَطَ.

 

Abu Ishaq al-Sabi’i, perawi tsiqah dan imam, akan tetapi ia mengalami masa tua, hapalannya buruk dan hafalannya tidak berubah (ikhtilath). (Al-Hafizh al-Dzahabi, al-Ruwat al-Tsiqat al-Mutakallam fihim bima la Yujibu Raddahum, [h. 203]).

 

Seandainya klaim ikhtilath-nya Abu Ishaq kita terima, para ulama memasukkan ikhtilath-nya Abu Ishaq dalam kategori kelompok pertama, yaitu ikhtilath yang tidak menimbulkan kedha’ifan dalam riwayat dan tidak menurunkan martabat perawi, adakalanya karena masa ikhtilath-nya yang sebentar dan sedikit, dan adakalanya karena ia tidak meriwayatkan hadits ketika mengalami ikhtilath, sehingga haditsnya selamat dari kekeliruan. Dalam konteks ini al-Hafizh Shalahuddin al-‘Ala’i berkata:

 

وَلَمْ يَعْتَبِرْ أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ مَا ذُكِرَ مِنِ اخْتِلاَطِ أَبِيْ إِسْحَاقَ، اِحْتَجُّوْا بِهِ مُطْلَقًا، وَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَخْتَلِطْ فِيْ شَيْءٍ مِنْ حَدِيْثِهِ فَهُوَ أَيْضًا مِنَ الْقِسْمِ اْلأَوَّلِ.

 

Tidak seorang pun dari para imam yang mempersoalkan apa yang disebutkan tentang ikhtilath-nya Abu Ishaq. Bahkan mereka berhujjah dengan Abu Ishaq secara mutlak. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak pernah ikhtilath dalam haditsnya. Ia juga termasuk dalam bagian bertama. (Al-Hafizh al-‘Ala’i, [al-Mukhtalithin, h. 94]).

 

Berdasarpan paparan di atas, dapatlah disimpulkan, bahwa penolakan kaum Wahabi seperti al-Albani terhadap riwayat Abu Ishaq karena alasan ikhtilath, tidak dapat diterima, karena para imam tidak mempersoalkan ikhtilath yang dinisbatkan terhadap Abu Ishaq al-Sabi’i. Disamping itu Sufyan al-Tsauri meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Ishaq sebelum Abu Ishaq mengalami ikhtilath.

 

Alasan Tadlis

 

Setelah kita mengkaji faktor ikhtilath yang ada pada Abu Ishaq, sekarang kita mengkaji penolakan kaum Wahabi terhadap riwayat Abu Ishaq dengan alasan kedua, yaitu faktor tadlis.

 

Secara kebahasaan, tadlis artinya menyamarkan. Sedangkan mudallis adalah perawi yang melakukantadlis. Dalam ilmu mushthalah al-haditstadlis terbagi menjadi dua. Pertama) penyamaran sanad atautadlis isnad, yaitu seorang perawi meriwayatkan hadits dari orang yang semasa, dengan mengesankan bahwa ia mendengar langsung hadits tersebut darinya, padahal ia tidak mendengarnya secara langsung, seperti dengan berkata “fulan berkata”, “dari fulan”, dan sesamanya.

 

Kedua, penyamaran guru atau tadlis syuyukh, yaitu menyebut gurunya dengan nama, kunyah, nisbat atau sifat yang tidak dikenal oleh orang lain.

 

Yang menjadi persoalan terkait dengan Abu Ishaq al-Sabi’i di sini adalah tadlis bagian pertama, yaitutadlis isnad. Dalam ilmu mushthalah al-hadits diterangkan, perawi yang dikenal melakukan tadlis, apabila dalam periwayatannya tidak menjelaskan bahwa ia telah mendengar secara langsung dari guru yang disebutkannya, maka riwayatnya dianggap mursal. Apabila ia menjelaskan bahwa ia mendengar secara langsung dari guru yang disebutkannya, maka riwayatnya diterima dan dijadikan hujjah. Dalam konteks ini, Abu Ishaq termasuk perawi mudallis (melakukan penyamaran sanad). Selama ia tidak menjelaskan bahwa riwayatnya ia terima secara langsung dari guru yang disebutkannya, maka riwayatnya dianggap mursal dan lemah.

 

Pertanyaannya di sini adalah, setelah Abu Ishaq terbukti sebagai perawi yang mudallis, lalu dalam hadits tersebut ia meriwayatkan secara mu’an’an, maka dapatkah hadits di atas dinilai dha’if? Jawabannya, hadits tersebut tidak bisa dinilai dha’if, karena kelemahan riwayat Abu Ishaq sebab faktor mu’an’an di atas telah diselamatkan oleh riwayat Syu’bah darinya. Dalam konteks ini al-Imam Syu’bah berkata:

عَنِ النَّضْرِ بْنِ شُمَيْلٍ قَالَ: سَمِعْتُ شُعْبَةَ يَقُوْلُ: كَفَيْتُكُمْ تَدْلِيْسَ ثَلاَثَةٍ، اْلأَعْمشِ وَأَبِيْ إِسْحَاقَ وَقَتَادَةَ.(الحافظ محمد بن طاهر المقدسي، مسألة التسمية ص/٤٧، والحافظ ابن حجر، النكت على مقدمة ابن الصلاح ص/٦٣٠).

 

Al-Nadhar bin Syumail berkata: “Aku mendengar Syu’bah berkata: “Aku cukupkan kalian dari tadlis-nya tiga orang, al-A’masy, Abu Ishaq dan Qatadah.” (Al-Hafizh Ibnu Thahir, [Mas’alah al-Tasmiyah, 47], dan Ibnu Hajar [al-Nukat ‘ala Ibn al-Shalah, 630]).

 

Ulama Wahabi kontemporer, Mushthafa al-‘Adawi berkata:

مَا حُكْمُ عَنْعَنَةِ اْلأَعْمَشِ وَقَتَادَةَ وَأَبِيْ إِسْحَاقَ السَّبِيْعِيِّ؟ ج: يَلْزَمُ أَنْ يُصَرّحَ كُلٌّ مِنْهُمْ بِالتَّحْدِيْثِ فَإِنَّهُمْ مُدَلِّسُوْنَ، لَكِنْ إِذَا رَوَى عَنْهُمْ شُعْبَةُ فَلاَ تَضُرُّ عَنْعَنَتُهُم، فَإِنَّهُ قَالَ: كَفَيْتُكُمْ تَدْلِيْسَ ثَلاَثَةٍ، ثُمَّ ذَكَرَهُمْ  وَقَدْ قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ فِيْ عِدَّةِ مَوَاضِعَ مِنْ فَتْحِ الْبَارِيْ: إِنَّ رِوَايَةَ شُعْبَةَ عَنْ أَيِّ مُدَلِّسٍ تَجْبُرُ عَنْعَنَةَ ذَلِكَ الْمُدَلِّسِ (هَذَا مَضْمُوْنُ كَلاَمِهِ).

 

Soal: Bagaimana hukum ‘an’anah-nya al-A’masy, Qatadah dan Abi Ishaq al-Sabi’i? Jawab: Mereka harus menjelaskan secara tahdits (menerima langsung dari gurunya) karena mereka perawi mudallis. Akan tetapi apabila Imam Syu’bah meriwayatkan dari mereka, maka ‘an’anah mereka tidak berba-haya. Karena Syu’bah telah berkata: “Aku cukupkan kalian dari tadlisnya tiga orang.” Kemudian menyebut ketiganya. Al-Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan di beberapa tempat dalam Fath al-Bari, bahwa riwayat Imam Syu’bah dari perawi mudallis, dapat mengangkis ‘an’anah-nya mudallis tersebut. Ini kesimpulan ucapan beliau. (Mushthafa al-‘Adawi, [Syarh ‘Ilal al-Hadits, h. 56]).

 

Paparan di atas menyimpulkan, bahwa riwayat Imam Syu’bah dari Abu Ishaq al-Sabi’i yang dikenalmudallis dapat menyelamatkan riwayatnya dari kelemahan karena faktor tadlis. Sementara Ibrahim al-Harbi telah meriwayatkan hadits Ibnu Umar RA di atas melalui dua jalur, salah satunya melalui jalur Syu’bah dari Abu Ishaq al-Sabi’i. Dalam Gharib al-Hadits, al-Harbi berkata:

 

١) حَدَّثنَا عَفَّانُ حَدَّثنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبى إٍسْحِاقَ عَمَّنْ سمِعَ ابن عُمَرَ قَالَ خَدِرَتْ رِجْلُهُ فَقَيِلَ : اذْكُرَ أَحَبَّ النَّاسٍ . قَالَ : يَا مُحَمَّدُ. ۲) حَدَّثنَا أَحْمَدُ بنُ يُونُسَ حَدَّثنَا زُهِيْرٌ عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بنِ سَعْدٍ : جِئْتُ ابنُ عُمَرَ فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ . فَقُلْتُ : مَالِرِجْلِكَ ؟ قَالَ : اجْتَمَعَ عَصَبُهَا قُلْتُ : ادْعُ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ فَبَسَطَهَا.

 

1) Telah bercerita kepada kami Affan, telah bercerita kepada kami Syu’bah, dari Abi Ishaq, dari seseorang yang mendengar Ibnu Umar. Orang tersebut berkata: “Kaki Ibnu Umar terkena mati rasa.”  Lalu dikatakan kepadanya, “Sebutkan orang yang paling kamu cintai.” Ibnu Umar berkata: “Ya Muhammad.” 2) Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Yunus, telah bercerita kepada kami Zuhair, dari Abi Ishaq, dari Abdurrahman bin Sa’ad: “Aku mendatangi Ibnu Umar, lalu kakinya terkena mati rasa. Aku berkata: “Ada apa dengan kakimu?” Ia menjawab: “Ototnya berkumpul.” Aku berkata: “Panggil orang yang paling kamu cintai.” Ia berkata: “Ya Muhammad.” Ia pun bisa membentangkan kakinya.” (Al-Imam al-Harbi, [Gharib al-Hadits, h. 673-674]).

 

Dalam riwayat di atas, Ibrahim al-Harbi meriwayatkan hadits Ibnu Umar, melalui dua jalur, salah satunya melalui jalur Imam Syu’bah. Dengan demikian, hadits Ibnu Umar di atas diselamatkan dari kelemahan dengan alasan tadlis-nya Abu Ishaq. Hadits tersebut harus dikatakan shahih sesuai dengan kaedah ilmu hadits yang berlaku.

 

Di sini ada dua hal yang perlu dijelaskan. Pertama, mungkin kaum Wahabi akan menggugat, bahwa dalam riwayat Syu’bah di atas, terdapat perawi mubham (tidak jelas namanya), sehingga hadits ini tidak bisa dinilai shahih. Gugatan tersebut dapat dijawab, bahwa perawi mubham dalam riwayat Syu’bah di atas telah dijelaskan dalam riwayat lain, yaitu riwayat al-Harbi sendiri dalam Gharib al-Haditsmelalui jalur Zuhair, dan riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad melalui Sufyan al-Tsauri, bahwa perawi mubham tersebut adalah Abdurrahman bin Sa’ad, perawi yang dinilai tsiqah oleh al-Nasa’i dan Ibnu Hibban. Para ulama menjelaskan kesamaran seorang perawi dapat diketahui dari jalur lain yang menjelaskan namanya. (Al-Hafizh al-Suyuthi, [Tadrib al-Rawi, h. 468]). Oleh karena itu, setelah menceritakan riwayat Syu’bah, Ibrahim al-Harbi menceritakan riwayat Zuhair untuk menjelaskan nama perawi mubham dalam riwayat Syu’bah, yaitu Abdurrahman bin Sa’ad.

 

Kedua, mungkin kaum Wahabi ada yang menggugat, bahwa Zuhair meriwayatkan hadits tersebut dari Abi Ishaq setelah Abi Ishaq mengalami ikhtilath. Gugatan ini dapat dijawab, bahwa riwayat Zuhair telah sesuai dan dikuatkan dengan riwayat Sufyan al-Tsauri yang meriwayatkan hadits tersebut sebelum Abu Ishaq mengalami ikhtilath. Dengan demikian, periwayatan Zuhair dari Abi Ishaq setelahikhtilath dapat diselamatkan dari kelemahan.

 

Berdasarkan paparan di atas, kiranya di sini dapat disimpulkan bahwa semua argumen kaum Wahabi yang berupaya melemahkan hadits Ibnu Umar RA di atas tidak proporsional dan menemukan kegagalan. Hadits Ibnu Umar RA di atas adalah hadits shahih tanpa keraguan berdasarkan kaedah ilmu hadits yang diterapkan oleh para ulama ahli hadits. Wallahu a’lam.

Top of Form

Bottom of Form

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Mei 2012 in Uncategorized